Adipati Jenaka Art Gallery, Tempat Produksi dan Berbagi Ilmu

Potret awal bebeberapa sudut Adipati Jenaka Art Gallery di Desa Kapar, Batang Alai Selatan, Hulu Sungai Tengah.

Adipati Jenaka Art Gallery yang terletak di Desa Kapar, Hulu Sungai Tengah (HST), selain menjadi tempat produksi kerajinan kayu, juga tempat berkumpul para anak muda Murakata.

Barabai - Adipati Jenaka Art Gallery yang terletak di Desa Kapar, Kecamatan Batang Alai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), selain menjadi tempat produksi kerajinan berbahan kayu seperti alat musik tradisional 'panting', patung dan kerajian berbahan kayu lainnya, juga menjadi wadah berkumpulnya para pemuda Murakata yang ingin mengembangkan minat dan bakat mereka. 

Galeri ini menyuguhkan pemandangan berbagai aktifitas kesenian, mulai dari kelas seni rupa seperti seni ukir mengukir, kelas seni musik seperti biola, seni tari, hingga kegiatan sastra dan literasi.

Selain dilengkapi dengan fasilitas penunjang aktifitas kesenian, Adipati Jenaka juga dilengkapi dengan buku-buku, warung kopi dan wifi gratis. Hingga tak heran, tampak juga aktifitas orang membaca, nongkrong dan berdiskusi. 

Tidak hanya itu, galeri yang tidak jauh dari gerbang jalan lingkar Kapar-Walangsi ini juga menyuguhkan pemandangan desain tempat yang erat nilai kesenian. Seperti tata letak tempat duduk yang terpisah-pisah, kursi terbuat dari ban dan batang kayu bekas, meja yang terbuat dari kayu bekas, hingga setting panggung pentas yang tampak alami menjadi pemandangan unik tempat ini. 

Pembina Adipati Jenaka Art Gallery, Ansyari Rahmat, mengungkapkan tempat ini merupakan tempat berdiskusi dan berkarya untuk memajukan Bumi Murakata. Awalnya, dibuka kelas musik biola yang, kemudian dibuka kelas seni rupa dan seni tari yang lumayan banyak peminatnya. 

Galeri ini, tutur Ansyari, terbuka bagi semua pemuda HST yang ingin berkumpul, berdiskusi dan berkarya. 

"Terbuka untuk semua, pemuda HST lah khususnya, untuk berkumpul dan berdiskusi. Kita tampung sini. Mau penampilan. Mau berdiskusi. Bikin karya kita, kita buka di sini. Intinya umum, siapapun. Selagi itu positif, kita tampung," ujar Ansyari saat diwawancara pada 11 Juli 2020 lalu. 

Diberi nama Adipati Jenaka Art Gallery, jelas Ansyari, awalnya karena dulu ingin bercita-cita memiliki galeri alat musik, tempat latihan serta tempat berkumpul. selain tempat produksi juga tempat untuk berbagi ilmu.

"Adipati Jenaka itu awalnya julukan (saya) dulu kan. Waktu kita di Barikin membuat merek lah, untuk produksi alat musik, Adipati Jenaka. Nah, Habis itu, bercita-cita lah ingin punya galeri alat musik;tamannya;tempat kumpul; tempat latihan, lalu ditambah lah 'art gallery'," jelas pemuda 20 tahunan itu.

Lebih lanjut, bebernya, Adipati Jenaka membangun konsep selain tempat produksi juga tempat berbagi ilmu. 

"Jadi, selain memproduksi, kita berbagi. Nah itu konsepnya. Selain memproduksi kita berbagi, siapapun di sini boleh berbagi," imbuhnya. 

Terakhir, galeri juga menjadi markas dukungan gerakan Save Meratus. Gerakan yang mulai digaungkan berbagai elemen masyarakat Bumi Murakata semenjak dikeluarkannya SK Menteri ESDMl Nomor: 441.K/30/DJB/2017 tentang Penyesuaian Tahap Kegiatan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara PT Mantimin Coal Mining (PT. MCM) menjadi Tahap Kegiatan Operasi Produksi, pada tanggal 4 Desember  2017 silam.

Izin tersebut seluas 5.900 hektar meliputi kabupaten Tabalong, Balangan dan Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan. Wilayah tersebut menjadi bagian dari pegunungan Meratus yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang menyangga pulau Kalimantan.

Pembukaan pertambangan di pegunungan Meratus dinilai akan menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan alam dan sosial budaya masyarakat. Sejak saat itulah berbagai penolakan pun dilakukan masyarakat HST hingga akhirnya muncul gerakan #SaveMeratus yang sampai hari ini masih digaungkan. (Arbani)