Pameran Makanan Terjorok di Swedia, Wine Kotoran dan Vodka Kalajengking

Wine Tinja di Pameran Hidangan Disgusting Food Museum (AFP/Jonathan Nackstrand)

Reaksi pengunjung bermacam-macam, dari refleks, muntah hingga senyum geli saat mereka melihat berbagai minuman alkohol yang dipamerkan.

Wine tinja dan vodka kalajengking menjadi ikon utama dari pameran baru tentang minuman alkohol yang menjijikan di Disgusting Food Museum di Malmo di Swedia. Dalam sebuah kendi besar tembus pandang, terlihat cairan kekuningan yang wine dari kotoran manusia.

"Ini adalah pengobatan tradisional Korea. Ini bukan sesuatu yang diminum orang lagi. Ini minuman bersejarah dan diminum untuk menyembuhkan patah tulang dan memar," jelas direktur museum Andreas Ahrens, yang menyiapkan ramuan itu sendiri, seperti dilansir nst.com, Senin (14/9/2020).

Saat dia membuka tutupnya untuk mencium aroma alkohol tersebut, dia bersikukuh bahwa "sekarang baunya lebih seperti minuman alkohol daripada feses. Tapi saat membuatnya, baunya cukup menyengat."

Reaksi pengunjung bermacam-macam, dari refleks muntah hingga senyum geli saat mereka melihat berbagai minuman alkohol yang dipamerkan. Di antara semua yang dipamerkan adalah suatu eksperimental, seperti bir Skotlandia dengan kadar alkohol 55% yang dijual dalam boneka tupai, dan minuman yang diproduksi secara luas seperti Fernet Branca, minuman keras herbal Italia yang pahit.

Anda juga akan menemukan bir Waragi Uganda yang dibuat dengan testikel paus Islandia, Waragi Uganda, serta "pruno" wine, anggur yang dibuat oleh tahanan Amerika yang dibiarkan berfermentasi di toilet.

Seperti yang di kutip liputan6.com, pengunjung juga dapat melihat sekilas perbedaan budaya dalam hal mengkonsumsi alkohol. Misalnya, Gammeldansk, alkohol keras pahit Denmark, yang dianggap normal di sekitar Skandinavia, "namun di belahan dunia lain dianggap cukup menjijikkan," jelas Ahrens.

"Ini sama dengan semua barang lain di pameran utama. Itu adalah hal-hal yang disukai orang dari tempat asalnya, namun tampak menjijikkan untuk Anda yang bukan berasal dari sana," katanya.

Marie-Louise Syrjalainen mendeskripsikan kunjungannya sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus menjijikan. "Ini menunjukkan hal-hal yang sangat tidak terduga," katanya.

Meskipun lebih banyak reaksi penolakan saat melihat pameran tersebut, namun Disgusting Food Museum telah menerima semakin banyak pengunjung sejak pertama kali dibuka, dua tahun lalu.

Buktinya tak hanya di Malmo, pameran tersebut juga telah dilaksanakan di Nantes, Berlin, dan Los Angeles, namun krisis kesehatan pandemi Covid-19 memaksanya ditutup selama beberapa minggu.Dengan pameran alkohol baru, yang akan dipamerkan selama tiga bulan, Ahrens berharap bisa menarik pengunjung kembali setelah berbulan-bulan mengalami kelangkaan.