Mengenal Sosok "Sarinah" Salah Satu Wanita Paling Dihormati Presiden Soekarno

Bung Karno bersama pengasuhnya, Ibu Sarinah

"Dia mbok saya. Dia membantu ibu saya. Dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia, saya mendapat banyak pelajaran mencintai orang kecil.

Dia sendiri pun orang kecil. Tetapi budinya selalu besar. Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah.” ungkap Soekarno.

Sarinah adalah sosok wanita yang paling dihormati Soekarno semasa hidupnya, ia wanita desa yang menumpang pada pasangan Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Sarinah tinggal disitu membantu mengasuh Soekarno dimasa kecil.

Wanita paruh baya itu yang mengisi hidup Soekarno kecil, Ia menjadi bagian dari keluarga Soekarno, Ia tidak kawin. Ia tinggal, makan, dan bekerja di rumah keluarga Bung Karno. Sekalipun begitu, Sarinah tidak membayar, tidak pula mendapatkan upah.

Di Tulungagung Jawa Timur, Soekarno kecil saat berusia empat hingga enam tahun ditemani dan diasuh oleh Mbok Sarinah, Mbok Sarinah sangat dekat dan mempunyai arti penting bagi hidup Soekarno, sebab Mbok Sarinah-lah yang mengajarkan Soekarno untuk cinta kepada rakyat kecil.

Dalam biografi Soekarno yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno saat masih anak-anak sering tidur seranjang dengan Sarinah. Sebuah pengakuan betapa dekatnya sosok sang Proklamator dengan pembantunya.

Soekarno banyak belajar mencintai orang kecil dari mbok Sarinah. Sarinah lebih dari seorang pengasuh yang membesarkan Soekarno kecil, Sarinah adalah perempuan sederhana yang memberikan pendIdikan budi pekerti dan nilai-nilai kemanusiaan kepada Soekarno.

Dikisahkan bahwa, ajaran-ajaran itu bergulir setiap hari, kebersamaan Mbok Sarinah ketika memasak di dapur ditemani oleh Soekarno kecil, di sini lah kesempatan Mbok Sarinah memberikan nasehat.

Sarinah, seperti termaktub dalam buku Bung Karno-Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, sejatinya adalah nama pengasuh Putra Sang Fajar ketika kecil. “Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta kasih. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata. Selagi ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan kemudian ia berpidato, ‘Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi, kemudian engkau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya’,” kata Bung Karno.

Di kesehariannya pun Soekarno sering makan dengan ikan asin dan lalapan beserta anggota keluarganya, perabotan rumah juga jauh dari mewah. Bung Karno menghormati pembantu dengan teladan kepada semua orang tanpa membedakan, memperlakukan mereka mulai dari tamu sampai pembantu secara sama, menurut Bung Karno pembantu sudah capek jadi tak boleh direpotkan lagi.

Begitu hormatnya Soekarno terhadap Mbok Sarinah, pengasuh masa kecilnya, hingga memberikan nama gedung departemen store pertama di Indonesia dengan fasilitas tercanggih dijamannya ini dengan nama Sarinah

Karena itulah konsep pendirian department store Sarinah juga dilandasi keberpihakan Soekarno kepada rakyat Indonesia, terutama rakyat miskin, agar bisa berdiri di kaki sendiri secara ekonomi.

Dan selain pemberian nama departemen store dengan nama Sarinah, Soekarno pun pada tahun 1963 menulis buku “Sarinah Kewajiban Wanita dalan Perdjoeangan Repoeblik Indonesia”, dalam kata pengantar bukunya Soekarno menulis.

Dalam pengantar bukunya yang berjudul Sarinah, Soekarno menuliskan “Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran mencintai ‘orang kecil’. Ia orang kecil, tapi jiwanya selalu besar”.

“Sarinah adalah satu nama biasa. Tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita biasa. Dia orang yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku ” Kata Soekarno.

Di kota asalnya sendiri, Kabupaten Tulungagung sulit untuk mengungkap sejarah Sarinah secara utuh.

Tidak diketahui asal-usul Sarinah, usia maupun keluarganya. Walau mengaku banyak diilhami sosok Sarinah, Soekarno juga tidak detil memberikan gambaran soal Sarinah.

Warga kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kota hanya mengetahui Sarinah dari salah pusara yang ada di dalam pemakaman umum kelurahan setempat.

Sarinah meninggal 28 Desember 1959. Dimakamkan di pekuburan rakyat Kelurahan Kepatihan Kota Tulungagung, Jawa Timur. Tidak banyak yang tahu.

Makamnya pun tidak diberi tanda khusus atau sering dikunjungi peziarah. Makam biasa saja, seperti makam orang desa pada umumnya.Bahkan nama Sarinah sempat tidak diperhitungkan sama sekali. Apalagi, Sarinah tidak menikah dan tidak diketahui sanak saudaranya yang tersisa.

Bila berkunjung ke Tulungagung, tidak lupa sang proklamator selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke makam keluarga Raden Hardjodikromo. Setelahnya, Soekarno selalu menyempatkan diri menghampiri makam Sarinah dan berdoa di sana.

Namun nasib Sarinah sendiri tak semegah gedung Sarinah, Sarinah adalah pengasuh Soekarno kecil, wanita yang sangat dihormati Soekarno itu mungkin tidak pernah merasakan hidup mewah.

img

Seandainya Sarinah bisa membaca, mungkin dia akan tersenyum dalam kuburnya saat membaca tulisan Soekarno dalam buku Sarinah.