Indonesia Pernah Menjadi Negara Pemasok 90% Kebutuhan Kina Dunia

Pabrik kina

Tanaman Kina adalah bahan untuk obat yang digunakan untuk mengobati penyakit malaria.

GEDUNG cagar budaya di Jalan Pajajaran salah satu di antarnya adalah pabrik kina yang bernama ”Bandoengsche Kinine Fabriek N.V”. Pabrik ini didirikan pada tahun 1896, merupakan industri paling tua di kota ini.

Pabrik Kina di Jalan Pajajaran no. 29-30 ini merupakan rancangan arsitek Gnelig Mijling AW. Seperti kebanyakan gedung kolonial di Bandung, pabrik ini pun bergaya arsitektur art deco. Pabrik ini berdiri di lahan bekas perkebunan karet.

Pabrik ini terdiri dari beberapa kompleks. Pabrik di Jalan Cicendo berfungsi sebagai gudang kulit kina. Di seberangnya di sudut Jalan Pajajaran-Cihampelas berfungsi sebagai tempat sarana kebutuhan pabrik.

Di bawah pabrik ini ada terowongan yang melintas di bawah Jalan Pajajaran, jaraknya dari jalan sekitar 2,5 meter. Terowongan ini untuk lalu lintas para pegawai dari pabrik lain ke pabrik lainnya. Lebar terowongan itu sekitar satu meter. Panjangnya sama dengan lebar Jalan Pajajaran, sekitar sepuluh meter. Warga banyak yang tak sadar jika di sana terdapat terowongan.

Pada 1910-1915, areal pabrik diperluas. Sampai dengan tahun 1940-an, pabrik ini memasok hingga 90 persen kebutuhan bubuk kina dunia. Pada 1958 pabrik ini diserahkan kepada Pemerintah Indonesia dan pengelolaannya dilebur bersama sejumlah perusahaan farmasi lain.

Meski tidak lagi memproduksi kina sebanyak dulu, Pabrik Kina Bandung masih terus beroperasi di bawah kendali PT Kimia Farma.

img

Pabrik ini sempat populer di Kota Bandung berkat asap hitam yang membumbung dari cerobong. Asap itu berasal dari pembakaran mesin ketel uap manual Babcox & Wilcox. Namun mesin ketel itu telah diganti dengan ketel uap otomatis buatan Surabaya. Penggantian mesin itu dikarenakan asap hitam yang dikeluarkannya dianggap telah mencemari udara.

Pabrik ini berdiri berkat perkebunan kina yang terus berkembang di Jawa Barat pada akhir 1800-an. Franz Wilhelm Junghuhn, seorang dokter ahli botani adalah yang pertama kali mengembangkan bibit tanaman tersebut di Priangan.