Tim Penyelamat Temukan Tanda Kehidupan di Bawah Reruntuhan Sebulan Setelah Ledakan di Beirut

pasca ledakan di Pelabuhan Beirut pada Minggu, 9 Agustus 2020.

Tepat sebulan Ledakan di Beirut, Lebanon yang menewaskan cukup banyak orang terjadi akibat Amonium Nitrat.

Tepat sebulan Ledakan di Beirut, Lebanon yang menewaskan cukup banyak orang terjadi akibat Amonium Nitrat.

Kejadian pada 4 Agustus 2020 tersebut berujung dengan mundurnya Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab dan sejumlah menteri lainnya.

Terdapat aksi protes yang dilakukan oleh demonstran di gedung parlemen beberapa hari setelah ledakan. 

Demonstrasi pun dianggap menjadi faktor lain mundurnya pemimpin negara dari pemerintahan.

Seperti dikutip Pikiran-Rakyat.com, para petugas mendeteksi adanya tanda-tanda kehidupan di reruntuhan sebuah bangunan daerah pemukiman Beirut pada Kamis, 3 September 2020.

Kantor berita negara, NNA melaporkan pada sore hari bahwa satu tim penyelamat dengan seekor anjing penyelamat telah mendeteksi pergerakan di bawah bangunan yang hancur.

Bangunan itu terletak di daerah Gemmayze, salah satu daerah terparah akibat ledakan tersebut.

Menurut salah seorang petugas penyelamat, Eddy Bitar menyatakan bahwa timnya menemukan tanda pernapasan dan denyut nadi.

Meski tak disebutkan lebih lanjut dari mana ia memeroleh data tersebut namun ia bersama petugas lainnya yakin adanya seseorang yang terjebak di bawah reruntuhan.

"Ini (tanda-tanda pernapasan dan denyut nadi) bersama dengan sensor suhu berarti ada kemungkinan adanya kehidupan," ujarnya.

Namun, setelah beberapa jam menggali puing-puing, operasi dihentikan karena bangunan tersebut dianggap terlalu tidak aman.

Berdasarkan keterangan tim penyelamat lainnya, Michel el-Mur menyatakan bahwa aksi penyelamatan membutuhkan mesin yang lebih berat untuk membantu mengangkat puing-puing dengan aman.

Sehingga membutuhkan lebih banyak waktu untuk membawa alat tersebut ke tempat yang diduga ada seseorang terjebak.

"Ada banyak bahaya bagi tim. Ada 10 di atas sana, dan kita tidak bisa mengambil risiko pada satu pun dari mereka," ujarnya.

Tim penyelamat terdiri dari relawan dari negara Chilli, relawan Lebanon, dan anggota pertahanan sipil.

Berita tentang penyelamatan tersebut mendorong kerumunan untuk terbentuk di lokasi penyelamatan dan memicu para petugas untuk mengamankan lokasi.

Tak sedikit warga yang melihat cukup marah karena upaya penyelamatan dihentikan.

"Malu! Malu! Ada jiwa di sana!" seorang wanita berteriak pada anggota tentara Lebanon yang menjaga reruntuhan tersebut.