Kisah Guru Sukarela di Halmahera

Bangunan SD Negeri Kobe Kulo SP 4, Kecamatan Weda Tengah - Malu

Tulisan ini dibuat oleh seorang dokter PTT yang tinggal di Maluku Utara tahun 2018. Tulisan di publikasikan melalui halaman FB pribadi beliau.

Dalam akun FB nya, dokter Riyan Adiputra Lukardi tersebut menulis seperti ini:

Setahun tinggal di Maluku Utara tahun 2018 sebagai dokter PTT, ada hal yg menangkap perhatian saya, yakni pendidikan di Indonesia bagian Timur, khususnya di daerah terpencil. Menurut saya, pendidikan sangat penting untuk pembangunan SDM yg berkualitas. Gambaran yg terjadi pada salah satu sekolah di Kobe Trans, Halmahera tengah, dimana salah satu SD yg terdiri dr 6 kelas hanya memiliki 2 guru (kepala sekolah dan seorang guru sukarela). Pada saat ada guru yg ada keperluan dinas di kabupaten, maka beban mengajar yg ditanggung guru ini menjadi semakin berat. Pada beberapa kesempatan, murid di tingkat SD maupun SMP sudah datang ke sekolah namun krn tidak ada satu orang guru pun maka murid itu harus pulang kembali ke rumah dan sekolah diliburkan.  (Mohon pengawasan agar guru PNS yg ditugaskan di tempat terpencil benar2 ada di lokasi tugas, bukan di kota)

Pada saat kunjungan UKS di bulan Agustus 2018, seorang guru sukarela yg saya temui bercerita bahwa sering dalam waktu berminggu-minggu ia menangani 6 kelas seorang diri. Guru yang luar biasa ini berujar bahwa ia tidak tega jika melihat murid sudah datang ke sekolah dan tidak dapat belajar, sehingga ia berinisiatif mengajar dgn sukarela. Padahal sempat ia mendaftar untuk jadi guru honorer, namun apadaya hasilnya ia belum diterima. Namun kesetiaannya untuk mendidik anak2 masa depan bangsa tetap ia kerjakan dgn hati yg tulus, meski ia harus pulang setiap harinya dr sekolah dgn menahan lapar, haus, dan lelah. Ia telah mengajar di daerah ini selama 8 tahun, jangka waktu yg tidak singkat. Saya kira guru-guru seperti ini patut mendapatkan apresiasi lebih.

Hal ini berdampak pada murid didik, bahkan ada anak kelas 6 SD yang masih belum bisa membaca, ini benar terjadi. Sebagai langkah pribadi, saya pun tergerak untuk mengajar di sore hari untuk anak2 yang akan menghadapi ujian nasional. Jika hal seperti ini tidak ditanggapi dan terus berlanjut di Indonesia bagian Timur, maka anak2 ini akan tertinggal dalam hal pendidikan dan berimbas pada masa depan mereka dan kemajuan Indonesia bagian Timur. Miris, padahal tanah Halmahera ini kaya sekali sumber daya alam, ada banyak sekali tambang nikel bahkan emas di daerah ini, namun masyarakatnya tidak banyak mendapat kesempatan untuk berkembang maju. Saya menuliskan ini hanya karena merasa hal ini perlu ada perhatian lebih, mohon dukungannya @kemdikbud.ri untuk mengirim SDM guru ke daerah seperti ini. Pertama, merasa kasihan untuk guru-guru yg beban kerja nya berat. Poin kedua, kepada anak2 di daerah seperti ini yg tidak banyak memiliki kesempatan untuk menimba ilmu dengan maksimal padahal mereka terlahir tidak bisa memilih untuk tinggal di daerah terpencil kah atau di kota. cc: @maklambeturah (oleh @riyanlukardi)

Semoga pendidikan di daerah tertinggal bisa semakin maju. Ketimpangan pendidikan semakin kecil.