Bagaimana Sikap Kita Dalam "Mengucap Salam" Saat Dilingkungan Baru

Ilustrasi

Mengucapkan salam bagi sesama muslim merupakan sebuah adab yang baik. Karena didalamnya saling mendoakan. Namun bagaimana jika kita berada dilingkungan baru, yang kita tidak mengetahui agama mereka?

Ringkasnya:

  • Melihat kepada agama mayoritas penduduk.
  • Jika mayoritas penduduk ialah muslim, maka tetap ucapkan salam, meski kita tidak tahu itu secara pasti.
  • Tapi jika mayoritasnya non muslim, maka kita tidak mengucapkan salam kepada orang yang tidak kita ketahui pasti keislamannya.
  • Jika penduduk suatu wilayah sama banyak antara yang muslim dan non muslim, maka bebas, jika ingin bisa mengucapkan salam kepadanya, dan jika ingin, maka boleh juga tidak. 

▪️ Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah berkata, 

إن كنت في بلد أكثر أهله مسلمون فسلم، وإن كان أكثر أهله غير مسلمين لا تسلم، يتساوى الأمران فأنت بالخيار.

"Jika kamu berada di suatu wilayah yang mayoritas penduduknya ialah muslim, maka ucapkan salam. Tapi apabila penduduk suatu wilayah kebanyakannya non muslim, maka jangan ucapkan salam. Jika sama banyaknya antara muslim dan non muslim, maka bisa memilih (antara mengucapkan salam dan tidak)." (Kaset Fatawa Nur 'alad Darb, no. 327) 

  • Yang lebih pasti ialah melihat pada tanda, seperti pakaiannya, misalnya. Jika dia menggunakan pakaian atau atribut yang menunjukkan dia orang di luar Islam, maka jangan mengucapkan salam kepadanya. 

Berikut rincian penjelasan Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin dalam poin kedua ini, 

إذا مررت بإنسان لا تدري أمسلم هو أو كافر ، فإن كان هناك علامة تميز بين الكفار والمسلمين فخذ بالعلامة ، مثل أن الكفار يلبسون ثيابة معينة ، فخذ بالعلامة ، إذا لم يكن ، كما هو واقع الآن ، الواقع أن العمال الذين يأتون من يمين وشمال بعضهم مسلم وبعضهم كافر ، وليس لهم علامة ، كلهم ثيابهم واحدة وكلهم أشباههم واحدة وألوانهم واحدة فماذا تصنع؟ أتسلم أو لا تسلم؟ نقول : إذا غلب على ظنك أنهم ليسوا مسلمين لا تسلم ، لكن لك أن تقول صباح الخير أو مرحبا بالجماعة ، وما أشبه ذلك

"Jika kamu berpapasan dengan seseorang dan tidak mengetahui apakah dia muslim atau kafir, maka dilihat, apabila:

  • ada tanda yang membedakan antara orang-orang kafir dan umat Islam maka jadikanlah tanda itu sebagai dasar. 

Umpamanya, orang kafir menggunakan pakaian tertentu, maka jadikan tanda itu sebagai dasar. 

  • Namun apabila tidak ada tanda pembeda antara muslim dan kafir, seperti realita saat ini, yang mana banyak di masa sekarang para pekerja yang datang dari sana dan sini, sebagian ada yang muslim dan sebagian kafir, tidak ada tanda tertentu pada mereka; pakaian mereka sama, penampilan mereka sama, warna kulit juga sama. 

Apa yang kamu lakukan? Apakah mengucapkan salam atau tidak? Maka kami katakan, 'Apabila dalam dugaan kuatmu bahwa mereka bukan muslim, maka jangan ucapkan salam. Dan tidak masalah bila kamu mengucapkan selamat pagi, atau selamat datang, atau yang semisal ini." (Kaset Nazhorot fi Surotai al-Ikhlas wa al-Kafirun melalui Irsyad al-Anam, hlm. 57)

✍Hari Ahadi (NasehatEtam)